Posted by: dianvanpersie on: October 12, 2008
Kisah di bawah ini adalah kisah yang saya dapat dari milis alumni Jerman,
atau warga Indonesia yg bermukim atau pernah bermukim di sana . Demikian
layak untuk dibaca beberapa menit, dan direnungkan seumur hidup.
Saya adalah ibu dari tiga orang anak dan baru saja menyelesaikan kuliah
saya. Kelas terakhir yang harus saya ambil adalah Sosiologi. Sang Dosen
sangat inspiratif, dengan kualitas yang saya harapkan setiap orang
memilikinya.
Tugas terakhir yang diberikan ke para siswanya diberi nama “Smiling.”
Seluruh siswa diminta untuk pergi ke luar dan memberikan senyumnya kepada
tiga orang asing yang ditemuinya dan mendokumentasikan reaksi mereka.
Setelah itu setiap siswa diminta untuk mempresentasikan didepan kelas. Saya
adalah seorang yang periang, mudah bersahabat dan selalu tersenyum pada
setiap orang. Jadi, saya pikir,tugas ini sangatlah mudah.
Setelah menerima tugas tsb, saya bergegas menemui suami saya dan anak
bungsu saya yang menunggu di taman di halaman kampus, untuk pergi kerestoran
McDonald’s yang berada di sekitar kampus. Pagi itu udaranya sangat dingin
dan kering. Sewaktu suami saya akan masuk dalam antrian, saya menyela dan
meminta agar dia saja yang menemani si Bungsu sambil mencari tempat duduk
yang masih kosong.
Ketika saya sedang dalam antrian, menunggu untuk dilayani, mendadak setiap
orang di sekitar kami bergerak menyingkir, dan bahkan orang yang semula
antri dibelakang saya ikut menyingkir keluar dari antrian.
Suatu perasaan panik menguasai diri saya, ketika berbalik dan melihat
mengapa mereka semua pada menyingkir ? Saat berbalik itulah saya membaui
suatu “bau badan kotor” yang cukup menyengat, ternyata tepat di belakang
saya berdiri dua orang lelaki tunawisma yang sangat dekil! Saya bingung, dan
tidak mampu bergerak sama sekali.
Ketika saya menunduk, tanpa sengaja mata saya menatap laki-laki yang lebih
pendek, yang berdiri lebih dekat dengan saya, dan ia sedang “tersenyum”
kearah saya.
Lelaki ini bermata biru, sorot matanya tajam, tapi juga memancarkan kasih
sayang. Ia menatap kearah saya, seolah ia meminta agar saya dapat menerima
‘kehadirannya’ ditempat itu.
Ia menyapa “Good day!” sambil tetap tersenyum dan sembari menghitung
beberapa koin yang disiapkan untuk membayar makanan yang akan dipesan.
Secara spontan saya membalas senyumnya, dan seketika teringat oleh saya
‘tugas’ yang diberikan oleh dosen saya. Lelaki kedua sedang memainkan
tangannya dengan gerakan aneh berdiri di belakang temannya. Saya segera
menyadari bahwa lelaki kedua itu menderita defisiensi mental, dan lelaki
dengan mata biru itu adalah “penolong”nya. Saya merasa sangat prihatin
setelah mengetahui bahwa ternyata dalam antrian itu kini hanya tinggal saya
bersama mereka,dan kami bertiga tiba2 saja sudah sampai didepan counter.
Ketika wanita muda di counter menanyakan kepada saya apa yang ingin saya
pesan, saya persilahkan kedua lelaki ini untuk memesan duluan. Lelaki
bermata biru segera memesan “Kopi saja, satu cangkir Nona.” Ternyata dari
koin yang terkumpul hanya itulah yang mampu dibeli oleh mereka (sudah
menjadi aturan direstoran disini, jika ingin duduk di dalam restoran dan
menghangatkan tubuh, maka orang harus membeli sesuatu). Dan tampaknya kedua
orang ini hanya ingin menghangatkan badan.
Tiba2 saja saya diserang oleh rasa iba yang membuat saya sempat terpaku
beberapa saat, sambil mata saya mengikuti langkah mereka mencari tempat
duduk yang jauh terpisah dari tamu2 lainnya, yang hampir semuanya sedang
mengamati mereka. Pada saat yang bersamaan, saya baru menyadari bahwa saat
itu semua mata di restoran itu juga sedang tertuju ke diri saya, dan pasti
juga melihat semua ‘tindakan’ saya.
Saya baru tersadar setelah petugas di counter itu menyapa saya untuk ketiga
kalinya menanyakan apa yang ingin saya pesan. Saya tersenyum dan minta
diberikan dua paket makan pagi (diluar pesanan saya) dalam nampan terpisah.
Setelah membayar semua pesanan, saya minta bantuan petugas lain yang ada di
counter itu untuk mengantarkan nampan pesanan saya ke meja/tempat duduk
suami dan anak saya. Sementara saya membawa nampan lainnya berjalan
melingkari sudut kearah meja yang telah dipilih kedua lelaki itu untuk
beristirahat. Saya letakkan nampan berisi makanan itu di atas mejanya, dan
meletakkan tangan saya di atas punggung telapak tangan dingin lelaki bemata
biru itu, sambil saya berucap “makanan ini telah saya pesan untuk kalian
berdua.”
Kembali mata biru itu menatap dalam ke arah saya, kini mata itu mulai basah
ber-kaca2 dan dia hanya mampu berkata “Terima kasih banyak, nyonya.”
Saya mencoba tetap menguasai diri saya, sambil menepuk bahunya saya berkata
“Sesungguhnya bukan saya yang melakukan ini untuk kalian, Tuhan juga berada
di sekitar sini dan telah membisikkan sesuatu ketelinga saya untuk
menyampaikan makanan ini kepada kalian.”
Mendengar ucapan saya, si Mata Biru tidak kuasa menahan haru dan memeluk
lelaki kedua sambil terisak-isak. Saat itu ingin sekali saya merengkuh kedua
lelaki itu.
Saya sudah tidak dapat menahan tangis ketika saya berjalan meninggalkan
mereka dan bergabung dengan suami dan anak saya, yang tidak jauh dari tempat
duduk mereka. Ketika saya duduk suami saya mencoba meredakan tangis saya
sambil tersenyum dan berkata “Sekarang saya tahu, kenapa Tuhan mengirimkan
dirimu menjadi istriku, yang pasti, untuk memberikan ‘keteduhan’ bagi diriku
dan anak-2ku! ” Kami saling berpegangan tangan beberapa saat dan saat itu
kami benar2 bersyukur dan menyadari,bahwa hanya karena ‘bisikanNYA’ lah kami
telah mampu memanfaatkan ‘kesempatan’ untuk dapat berbuat sesuatu bagi orang
lain yang sedang sangat membutuhkan.
Ketika kami sedang menyantap makanan, dimulai dari tamu yang akan
meninggalkan restoran dan disusul oleh beberapa tamu lainnya, mereka satu
persatu menghampiri meja kami, untuk sekedar ingin ‘berjabat tangan’ dengan
kami.
Salah satu diantaranya, seorang bapak, memegangi tangan saya, dan berucap
“Tanganmu ini telah memberikan pelajaran yang mahal bagi kami semua yang
berada disini, jika suatu saat saya diberi kesempatan olehNYA, saya akan
lakukan seperti yang telah kamu contohkan tadi kepada kami.”
Saya hanya bisa berucap “terimakasih” sambil tersenyum. Sebelum beranjak
meninggalkan restoran saya sempatkan untuk melihat kearah kedua lelaki itu,
dan seolah ada ‘magnit’ yang menghubungkan bathin kami, mereka langsung
menoleh kearah kami sambil tersenyum, lalu melambai-2kan tangannya kearah
kami. Dalam perjalanan pulang saya merenungkan kembali apa yang telah saya
lakukan terhadap kedua orang tunawisma tadi, itu benar2 ‘tindakan’ yang
tidak pernah terpikir oleh saya. Pengalaman hari itu menunjukkan kepada saya
betapa ‘kasih sayang’ Tuhan itu sangat HANGAT dan INDAH sekali!
Saya kembali ke college, pada hari terakhir kuliah dengan ‘cerita’ ini
ditangan saya. Saya menyerahkan ‘paper’ saya kepada dosen saya. Dan keesokan
harinya, sebelum memulai kuliahnya saya dipanggil dosen saya ke depan kelas,
ia melihat kepada saya dan berkata, “Bolehkah saya membagikan ceritamu ini
kepada yang lain?” dengan senang hati saya mengiyakan. Ketika akan memulai
kuliahnya dia meminta perhatian dari kelas untuk membacakan paper saya. Ia
mulai membaca, para siswapun mendengarkan dengan seksama cerita sang dosen,
dan ruangan kuliah menjadi sunyi. Dengan cara dan gaya yang dimiliki sang
dosen dalam membawakan ceritanya, membuat para siswa yang hadir di ruang
kuliah itu seolah ikut melihat bagaimana sesungguhnya kejadian itu
berlangsung, sehingga para siswi yang duduk di deretan belakang didekat saya
diantaranya datang memeluk saya untuk mengungkapkan perasaan harunya.
Diakhir pembacaan paper tersebut, sang dosen sengaja menutup ceritanya
dengan mengutip salah satu kalimat yang saya tulis diakhir paper saya .
“Tersenyumlah dengan ‘HATImu’, dan kau akan mengetahui betapa ‘dahsyat’
dampak yang ditimbulkan oleh senyummu itu.”
Dengan caraNYA sendiri, Tuhan telah ‘menggunakan’ diri saya untuk menyentuh
orang-orang yang ada di McDonald’s, suamiku, anakku, guruku, dan setiap
siswa yang menghadiri kuliah di malam terakhir saya sebagai mahasiswi. Saya
lulus dengan 1 pelajaran terbesar yang tidak pernah saya dapatkan di bangku
kuliah manapun, yaitu: “PENERIMAAN TANPA SYARAT.”
Banyak cerita tentang kasih sayang yang ditulis untuk bisa diresapi oleh
para pembacanya, namun bagi siapa saja yang sempat membaca dan memaknai
cerita ini diharapkan dapat mengambil pelajaran bagaimana cara MENCINTAI
SESAMA, DENGAN MEMANFAATKAN SEDIKIT HARTA-BENDA YANG KITA MILIKI, dan
bukannya MENCINTAI HARTA-BENDA YANG BUKAN MILIK KITA, DENGAN MEMANFAATKAN
SESAMA!
Jika anda berpikir bahwa cerita ini telah menyentuh hati anda, teruskan
cerita ini kepada orang2 terdekat anda. Disini ada ‘malaikat’ yang akan
menyertai anda, agar setidaknya orang yang membaca cerita ini akan tergerak
hatinya untuk bisa berbuat sesuatu (sekecil apapun) bagi sesama yang sedang
membutuhkan uluran tangannya!
Orang bijak mengatakan: Banyak orang yang datang dan pergi dari
kehidupanmu, tetapi hanya ‘sahabat yang bijak’ yang akan meninggalkan JEJAK
di dalam hatimu.
Untuk berinteraksi dengan dirimu, gunakan nalarmu. Tetapi untuk
berinteraksi dengan orang lain, gunakan HATImu! Orang yang kehilangan uang,
akan kehilangan banyak, orang yang kehilangan teman, akan kehilangan lebih
banyak! Tapi orang yang kehilangan keyakinan, akan kehilangan semuanya!
Tuhan menjamin akan memberikan kepada setiap hewan makanan bagi mereka,
tetapi DIA tidak melemparkan makanan itu ke dalam sarang mereka, hewan itu
tetap harus BERIKHTIAR untuk bisa mendapatkannya.
Orang-orang muda yang ‘cantik’ adalah hasil kerja alam, tetapi orang-orang
tua yang ‘cantik’ adalah hasil karya seni. Belajarlah dari PENGALAMAN
MEREKA, karena engkau tidak dapat hidup cukup lama untuk bisa mendapatkan
semua itu dari pengalaman dirimu sendiri
Posted by: dianvanpersie on: July 2, 2008
Keabadian Cinta
Seorang gadis yang bernama Nicole yang tinggal dikota Vollendam sedang menantikan hari yang sangat bahagia bersama sang kekasihnya yang bernama Van riko, mereka akan menikah untuk beberapa minggu lagi, oleh karena itu segala sesuatunya sudah dia persiapkan dengan baik.
Tiba-tiba Nicole menemukan sesuatu diatas mejanya….
Nicole : “Apa ini?” (melihatnya dengan bingung, kemudian membukanya)
(setelah membuanya terkejut karena ternyata adalah undangan perkawinannya)
“van riko” (tiba-tiba telepon berdering)
Nicole : (mengambil telepon) “halo”
Van riko : “Halo sayang, bagaimana menurutmu undangan pernikahan kita?”
Nicole : “aku sangat menyukainya sayang, terima kasih”
Van riko : “aku sangat senang mendengarnya sayang, oh ya bagaimana kalau hari minggu aku ajak kamu makan di restoran?”
Nicole : “boleh! Tapi dimana?”
Van Riko : “nanti aku akan menjemputmu sayang!”
Nicole : “Baiklah sayang….”
Van riko : “Ya sudah sayang sepertinya sudah larut malam, lebih baik kamu tidur dulu, selamat malam!”
Nicole : “malam sayang!”
Besoknya…
Nicole : “Aku tidak sabar menunggu hari besok , Jelena”
Jelena : “Semua wanita pasti akan berdebar hatinya menunggu saat yang membahagiakan ini nona Nicole”
Nicole : “Oh ya, aku lupa, hari ini kalau tidak salah Van Riko akan kemari kan!”
Jelena : “Benar sekali nona, dia kesini akan mengantarkan cincin pertunangan nona Nicole dan Van Riko”
Nicole : “Kenapa dia lama sekali ya, apa sebaiknya aku telepon dia…”
Jelena : “Ide yang bagus nona…” (berjalan menuju meja hias, dan mengambil telepon selular Nicole)
Nicole : “terima kasih Jelena” (memencet nomor telepon Van Riko). “Halo sayang, kenapa kamu lama sekali?”
Van Riko : “Maaf sayangku, jalan utama kota sedang macet… menunggu sebentar tidak apa-apa kan!”
Nicole : “Begitu ya, kalau bisa agak cepat ya. Aku ingin mengajakmu makan siang di Restoran Der Panzer yang terkenal itu”
Van Riko : “Pasti, aku akan secepatnya kesana!”
Nicole : “Ya sudah, hati-hati dijalan ya, I love you!”
Van Riko : “I love you too”
Nicole : (memberikan telepon tadi kepada Jelena)
Jelena : “Bagaimana Nona Nicole?”
Nicole : “Dia akan datang namun agak terlambat, soalnya jalan utama hari ini agak macet, kau tahu kan Jelena, hari ini ada parade bunga di pusat Vollendam”
2 jam kemudian Van riko belum datang-datang juga, Nicole sudah sangat bosan menunggunya didalam kamar kemudian dia menghidupkan MP3 kesayangannya Van Riko.
Marisol : “Nona Nicole ini makan siang anda!”
Nicole : “Terima kasih Marisol, aku sedang tidak lapar…”
Marisol : “Maaf nona Nicole, lebih baik makan dulu, nanti anda sakit dan tidak bisa mengikuti acara pernikahan itu”
Nicole : “Kau benar juga, tapi tadi ada telepon dari Van riko tidak?”
Marisol : “Maaf nona tapi dari tadi tidak ada telepon yang masuk dari tuan Van Riko”
Nicole : “Ya sudah, kau boleh keluar!”
Besoknya paginya, Nicole sudah bersiap-siap berdandan dikamarnya yang dibantu oleh Jelena dan Marisol, saat itu mereka masih saja tertawa dan bercanda saling melempar cerita cerita lucu dan tebakan-tebakan lucu.
Jelena : “Oh ya saya sudah punya cerita culu nona Nicole, kali ini pasti lucu!”
Nicole : “Ah… lucu dari mana, perasaan dari dulu kamu kalau menceritakan cerita lucu biasa saja”
Marisol : “Tidak Lucu!” (mengagetkan Jelena)
Jelena : “Tidak lucu, tidak lucu, eh… tidak lucu” (sambil latah)
Nicole dan Marisol : “Hahahahaha….”
Nicole : “Sudah-sudah ayo lanjutkan kembali, bagaimana Jelena apakah aku cantik?”
Jelena : “Anda cantik sekali nona Nicole!”
Nicole : “Terima kasih Jelena, hari ini aku sangat bahagia sekali!”
Marisol : “Bagaimana dengan Orang tua anda nona Nicole?”
Nicole : “Mereka hanya mengirim pamanku, Klass Jan Huntelar, kalian tahu sendiri, orang tuaku adalah seorang Diploma, jadi setiap saat mereka pindah sana-sini. Oleh karena itu mereka mengirim pamanku Huntelar, apa dia sudah datang Marisol?”
Marisol : “Belum nona, mungkin sebentar lagi…”
Tiba-tiba Bern Schüster datang sambil membawa sebuah kotak cantik berwarna putih, anehnya kotak itu ada bercak merahnya.
Bern Schüster : “Nona Nicole, Nona Nicole…”
Nicole : “Ada apa Schüster? Kenapa kau tiba-tiba masuk dan mengaggetkan kami semua?”
Bern Schüster : “Maaf nona tapi…tapi…” (berkata sambil nafasnya yang tersengal-sengal)
Jelena : “Bicara yang jelas Bern!”
Bern Schüster : (Menarik nafasnya) “Maafkan saya nona Nicole, ada berita yang tidak bagus… Pengantin Prianya… tidak akan datang”
Nicole : “Kenapa tidak datang? Apa dia ada halangan sehingga tidak datang”
Bern Schüster : “Bukan nona, tapi… kemarin tuan Van Riko kecelakaan, kemuadian dibawa kerumah sakit, tetapi dalam perjalanan ke rumah sakit… nyawanya sudah tidak tertolong lagi”
Nicole : “Kau jangan bercanda Bern!”
Bern Schüster : “Saya tidak bercanda nona Nicole, ini buktinya” (memberikan kotak yang berbecak merah itu pada Nicole)
Nicole : (Mengambil kotak itu, dan kemudian pingsan)
Besoknya Tingkah Nicole jadi agak aneh, dia jadi suka berkaca didepan kaca sambil berharap Van Riko akan membawanya makan siang.
Berharap akan menikah dengan van riko, dia mencoba gaun pernikahan yang tidak akan pernah dia pakai pada hari pernikahannya dengan van riko, kekasih yang telah meninggalkannya untuk selamanya…
Nicole : “wah baju ini sangat bagus sekali, lihat aku sangat cantik memakainya, van riko pasti kaget melihatku memakai gaun ini…”
(Paman masuk ke kamar Nicole)
Nicole : “Paman, bagaimana? Apakah aku cantik memakai baju ini?”
Huntelar : “Tentu saja anakku, Nicole kamu belum makan siang, ayo ikut paman makan siang bersama”
Nicole : “Maafkan aku paman, hari ini aku ada janji dengan Van Riko ke Restoran Der Panzer”
Huntelar : “Apa kamu tidak tahu Nicole, Van Riko-mu itu sudah meninggal…”
Nicole : “Paman… Van Riko itu sedang sibuk jadi dia agak terlambat menjemputku, paman tenang saja dia pasti datang!”
Huntelar : “Sampai kapan kamu akan begini Nicole, sadarlah Van Riko yang kau tunggu itu tidak akan datang!”
Nicole : “Paman, sudahlah nanti kalau dia memang tidak datang pasti dia akan menelponku paman…”
Huntelar : “Sudahlah Nicole, paman sudah muak dengan semua ini!”
Karena bingung menghadapi Nicole yang sudah mulai stress Huntelar akhirnya pergi. Kemudian dia menyuruh Marisol untuk mengantarkan makanan kepada Nicole.
Marisol : “Nona ini makan siang anda”
Nicole : “Aku tidak pesan! Apa kalian yang ada dirumah ini sudah tuli, hari ini Van Riko akan mengajakku ke Restoran Der Panzer” (Nada bicaranya mulai agak meninggi)
Marisol : “Tapi Van Riko tidak akan datang nona Nicole…”
Nicole : “Diam kau… keluar dari kamarku sekarang juga!”
Marisol : “Anda harus sadar nona, tuan Van Riko sudah pergi jauh…”
Nicole : “Keluar!”
Besoknya…
Bern Schüster : “Nona Nicole, lihat apa yang saya bawa untuk anda!”
Nicole : “Aku tidak butuh apa yang kau bawa untukku, aku mau Van Riko datang sekarang juga”
Bern Schüster : “Nona Nicole apa anda belum sadar juga, dia…”
Nicole : “ Kau mau katakan kalau dia sudah meninggal juga, kalau itu yang hendak kau katakan Bern, lebih baik pergi dari sini dan jangan pernah kembali lagi!”
Setelah Bern Schüster Pergi kemudian Jelena dtang sambil membawakanbuku bacaan, cemilan dan segelas susu untuk nona Nicole.
Jelena : “Nona ini…”
Nicole : “Kenapa semua orang mengatakan kalau Van Riko sudah meninggal… Jelena”
Jelena : “Tapi… bukankah tuan van Riko sudah meninggal nona Nicole!”
Nicole : “Kau tidak tahu Jelena (sambil memukul meja riasnya) Kemarin dia baru saja menelponku dan mengajak makan siang”
Jelena : “Nona Nicole, saya tahu perasaan anda, saya tahu bagaimana rasanya ditinggal kekasih, tapi nona Nicole anda tidak boleh terlalu larut dalam kesedihan… hidup anda masih panjang nona Nicole”
Nicole : “Apa yang harus kulakukan Jelena, tidak ada arti lagi hidupku ini tanpa seorang kekasih disampingku…” (menangis)
Jelena : (mendekati Nicole dan mengelus kepalanya)
“Anda tahu nona, kami semua disini menyayangi anda, Marisol, Jelena, paman Anda, dan saya sendiri masih disini menemani anda”
Setelah Jelena pergi, kemudian Nicole mengambil sehelai kertas dan mulai menulis semua isi hatinya ke dalam puisi.
Kau yang tak pernah mati
Kau masih disini diantara relung hati dan mimpiku
Masih bias kulihat engkau tersenyum
Masih kusaksikan engkau tertawa
Dan masih kurasakan kehadiranmu disini…
Menemaniku, disetiap langkah hidupku
Kau hanya pergi sesaat
Dan kita pasti akan bertemu kembali
Jika alam itu benar-benar ada
Jika kematian hanya sebatas jembatan
Kita akan bertemu kembali
Karena itu…
Tidak akan kuucapkan selamat tinggal
Kekasihku…
Nicole : “Van Riko kapan kita bertemu lagi, aku sangat merindukanmu, aku tidak tahu sudah berapa ribu rasa rinduku ini padamu. Aku tidak tahu dengan apa harus aku obati” (menangis)
Tanpa sepengetahuan Nicole kekasihnya Van Riko membelainya dari belakang dan berkata
Van Riko : “Nicole… walau kita dialam yang berbeda, walau kita tak bisa lagi bertatap muka, tapi cinta selalu ada diantara kita dan tetap selalu ada walaupun tanah dan laut sudah tiada”
Nicole : (menagis) kemudian mencari sesuatu didalam meja
“Van riko, aku sangat mencintaimu… aku tidak bisa hidup tanpamu, kemanapun engkau pergi aku akan mengikutimu… kekasihku!”
(menembak kepalanya dengan pistol)
Mendengar suara tembakan yang datang dari kamar Nicole kemudian, dua orang pembantunya segera memasuki kamarnya Nicole…
Nicole dan Jelena : “Nona Nicole!”
Kemudian dari arah yang berlawanan van riko dan Nicole bertemu kembali… setelah menderita kehilangan cinta sejatinya, kini Nicole bisa kembali bertemu dengan kekasihnya van riko di keabadian, keabadian cinta…
KEABADIAN CINTA
Karya : Dian Sari Eka Pratiwi
Kelas : XI IPA 1
Produksi SMA 1 BATUSANGKAR
TP : 2007 / 2008
KEABADIAN CINTA
Ide Cerita : Ayu Rahma Putri
Penulis Naskah : Dian Sari Eka Pratiwi
Sutradara : Dian Sari Eka Pratiwi
Aktor & Aktris
Arisco Oktaveni sebagai Van Riko
Citra Mega Yovina sebagai Nicole
Hidhayatul Kamil sebagai Klaas Jan Huntelar
Fauzi Hafis sebagai Bern Schüster
Elsa Putri Yanti sebagai Marisol
Deri afriliana N sebagai Jelena
Penata-penata
Penata Setting : Haris Widodo
Penata Kostum : Mairanti Prastika Putri & Erfadila Pranata Damanik
Penata Musik : Bagus Dermawan
Seksi dokumentasi & Publikasi : Febria kemala Sari & Iga setia Utami
Penata Make Up : Ayu Rahma Putri
Sinopsis
Sepasang kekasih yang bernama Nicole dan Van Rico yang akan melakukan Pernikahan besok harinya. Nicole dan keluarganya sudah mempersiapkan segala sesuatu untuk pesta pernikahan sepasang kekasih tersebut. Sehari sebelum pernikahan mereka van Riko mengajak Nicole untuk makan siang di restoran terkenal dikota Vollendam yaitu DER PANZER, namun setelah ditunggu-tunggu beberapa jam Van Riko tidak kunjung datang. Nicole mengira Van Riko terjebak macet dijalan karena Di pusat kota Vollendam sedang diadakan parade bunga.
Keesokan harinya supir kepercayaan Nicole yaitu Bern Schüster, pergi menjemput keluarga van riko, Nicole sangat berdebar sekali menunggu calon suaminya yang sangat dia cintai itu. Tiba-tiba saja Bern Schüster masuk tanpa permisi kekamarnya Nicole sambil membawa Kotak putih yang bernoda merah. Nicole sangat terkejut akan kedatangan supirnya itu yang secara tiba-tiba. Kemudian Nicole bertanya kepada Ben Schüster, kenapa dia pulang tidak membawa Keluarga van riko. Ben Schüster akhirnya menceritakan peristiwa yang terjadi pada Van Riko kemarin. Nicole tidak percaya, Ben Schüster kemudian memberikan kotak putih itu pada Nicole yang isinya adalah cincin perkawinan mereka.
Setelah mendengar cerita tersebut bahwa Van Riko sudah meninggal, Nicole malah tidak percaya, dia masih mengira bahwa calon suaminya itu masih hidup dan akan mengajaknya makan siang sebelum pesta perkawinannya. Sudah banyak usaha yang dilakukan para penghuni dirumah itu namun tidak juga bias mengembalikan Nicole pada keadaannya yang seperti semula. Sampai akhirnya datang Jelena, dan perlahan membuat Nicole sadar bahwa sang kekasihnya itu telah pergi untuk selama-lamanya. Tidak kuat menangguang perasaan yang begitu sakit ditinggal kekasih akhirnya Nicole bunuh diri. Tapi disisi lain Nicole dan van Riko yang sempat berpisah untuk sementara, akhirnya dapat lagi bertemu dalam kehidupan mereka yang abadi, dalam keabadian cinta.
ANGGOTA KELOMPOK I
1. Arisco Oktaveni
2. Ayu Rahma Putri
3. Bagus Dermawan
4. Citra Mega Yovina
5. Deri Afriliana N
6. Dian Sari Eka Pratiwi
7. Elsa Putri Yanti
8. Erfadila Pranata Damanik
9. Fauzi Hafiz
10. Febria Kemala Sari
11.Haris Widodo
12. Hidhayatul Kamil
13. Iga Setia Utami
14. Mairanti Prastika Putri
Recent Comments